![]() |
Pict: pecihitam.org |
Ratib berasal dari bahasa Arab yang memiliki arti teratur. Dalam tasawuf dijelaskan bahwa kata ratib sendiri dapat dikatakan sebagai suatu bentuk zikir yang digunakan seorang guru tarikat atau seorang ulama untuk dibaca atau diamalkan pada waktu tertentu oleh individu maupun kelompok dalam suatu jama’ah sesuai dengan aturan yang telah ditentukan oleh penyusunya. (Sambas, 2003:137) Pada umumnya zikir yang tersusun dalam ratib biasanya berasal dari ayat al-Qur’an pilihan yang mengesakan Allah, mensucikan Allah, memohon ampun, dan do’a pilihan. Tidak hanya itu, Ratib sendiri juga mampu menyembuhkan penyakit berupa jasmani maupun rohani, mendatangkan rezeki, mencegah bahaya, dan mengembalikan sihir. Salah satu dari macam ratib tersebut adalah Ratib al-Attas.
Ratib al-Attas merupakan karangan dari al-Habib Umar bin Abdul Rahman al-Attas. Nasab Lengkap beliau adalah Umar bin Abdurrahman bin Aqil bin Salim bin Ubaidullah bin Abdurrahman bin Abdullah bin Syeikh al-Ghauts Abdurrahman As-Seggaf bin Muhammad Maula Dawilah bin Ali bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidullah bin Imam al-Muhajir Ahmad bin Isa bin Muhammad an-naqib bin Imam Ali al-Uraidhi bin Ja’far as-Shodiq bin Imam Muhammad al-Baqir bin al-Imam Ali Zainal Abidin bin al-Imam Husein as- Sibth bin al-Imam Ali bin Abi Thalib dan al-Batul as-Sayyidah Fatimah az-Zahrah binti Rasulullah Saw.(Haqi, 2008:3)
Seperti yang telah dipaparkan diatas bahwa Ratib ini dikarang oleh al-Habib Umar bin Abdurrahman al-Attas dan sekarang telah berusia kira-kira 400 tahun. sehingga kini banyak dibaca di negara-negara seperti di Afrika termasuk Darussalam, Mombassa dan Afrika Selatan. Juga di England, Burma (Myanmar), India dan negara-negara Arab. Di Afrika ia disebarkan oleh murid-murid al-Habib Ahmad bin
Hasan seperti al-Habib Ahmad Masyhur al-Haddad dan lain-lain. Di India, Kemboja dan Burma oleh al-Habib Abdullah bin Alawi al-Attas. Sehingga sekarang kumpulan-kumpulan ratib alHabib Umar atau Zawiyah masih diamalkan di Rangoon dan di beberapa daerah di Burma. Tetapi mereka lebih terkenal di sana dengan Tariqah al-Attasiyah.
Ratib ini telah lama sampai di Malaya, Singapura, Brunei dan Indonesia. Antara keterangan ratib ini yang diterbitkan dalam bahasa Melayu di Singapura adalah sebuah kitab kecil yang bernama Fathu Rabbin-Nas yang dikarang oleh al-Habib Husein bin Abdullah bin Muhammad bin Mohsen bin Husein al-Attas. Ratib al Attas selesai ditulis pada pagi Juma’at 20 Jumadil Awal 1342 (20 Desember 1923). Ia diterbitkan dengan perbelanjaan C.H Kizar Muhammad Ain Company pengedar kain pelekat cap kerusi yang beribu pejabat di Madras, India dan dicetak oleh Qalam Singapura.
Pada tahun 1939, al-Habib al-Attas menerbitkan sebuah kitab yang bernama Miftahul Imdad yang dicetak di Matbaah al-Huda di Pulau Pinang. Kitab ini mengandung wirid-wirid datuk beliau al-Habib Ahmad bin Hasan al-Attas tetapi terdapat juga Ratib al-Habib Umar bin Abdurrahman al-Attas di dalamnya. Mengikut al-Habib Muhammad bin Salem al-Attas, al-Habib Hasan bin Ahmad al-Attas pada suatu masa dahulu telah mencetak Ratib al-Attas menerusi percetakannya Mutaaba’ah al-Attas (Al-Attas Press) yang pejabatnya terletak di Wadi Hasan, Johor Bahru, Malaysia. Percetakan ini bergiat di Johor pada kira-kira tahun 1927. (Hakim, 2017: 10)
Keutamaan Ratib Al-Athos diantaranya adalah Pertama Diberikan Kelapangan dan Keberkahan oleh Allah SWT Keutamaan ini disebutkan dalam kitab Al-Qirthas Syarah Ratib al-Atthas Sayyid al-Imam ‘Isa bin Muhammad al-Habsyi berkata: ‘Diriwayatkan dari Tuanku ‘Umar penyusun Ratib al-Atthas perkataan yang cukup banyak tentang keutamaan Ratib ini. Pernah suatu ketika datang kepada Sayyid ‘Umar orang-orang yang berkeluh kesah tentang sengsara dan sulitnya mencari biaya hidup, lalu beliau memerintahkan pada mereka untuk membaca ratib ini dan membaca bacaan tauhid (Lâ ilâha illa Allâh) setelahnya. Mereka pun melakukan perintah itu, tak lama kemudian Allah memberikan kelapangan pada mereka lantaran keberkahan Ratib al-Atthas. Kedua Diampuni Dosa-dosanya Ratib atau ratiban merupakan salah satu cara untu kita umat mulis diampuni segara dosanya baik kecil maupun besar. Tentunya hal tersebut bisa kita amalkan dikala ada waktu senggang. Selain itu Sebagaimana dalam buku Sayyid ‘Ali bin Hasan bin ‘Abdillah al-Atthas, Al-Qirthas Syarah Ratib al-Atthas, hal 8
"Berkata Sayyid ‘Isa: ‘Telah mengabarkan kepadaku orang yang terpercaya, ia meriwayatkan dari Syekh ‘Ali bin ‘Abdullah Bara’as, murid dari Sayyid ‘Umar bahwa ia melihat tulisan yang didalamnya tercatat ‘Barang siapa yang tekun mengamalkan ratib ini, maka dosa-dosanya diharapkan dapat diampuni’. Ketiga menjaga diri dari Malapetaka. Ratib atau rotiban ini bisa menjadi salah satu cara menolak bala segala malapetaka yang akan terjadi pada keluarga kalian. “Telah sampai padaku riwayat dari Syekh ‘Ali bin ‘Abdillah Bara’as bahwa Rotib ini ketika dibaca di perkampungan atau di sebuah daerah maka penghuni perkampungan atau daerah tersebut akan aman dari petaka dan Ratib ini menjaga mereka serta melindungi mereka dari petaka, layaknya dijaga 70 penunggang kuda, hal ini sudah tidak diragukan lagi”. (Amaludin,2021: 1)
Itulah sejarah singkat mengenai amalan dzikir Ratib al-Attas yang ditulis oleh al Habbib al-Habib Umar bin Abdurrahman al-Attas. Yang mana dapat disimpulkan bahwa setiap amalan dzikir didalam bacaan tersebut banyak sekali keutamaan dan faedah bagi yang mengamalkannya. Semoga bermanfaat.
0 Komentar